Senin, 24 Oktober 2011

MALARIA


BAB I
PENDAHULUAN

A.        Latar Belakang
            Malaria adalah infeksi pada sel darah merah yang disebabkan oleh suatu protozoa spesies plasmodium yang ditularkan ke manusia melalui air liur nyamuk (Corwin, 2000:125)
            Pada tanggal 01 Februari 2008 ditemukan kasus malaria di ruang A (Penyakit Dalam Pria) RSUD Dr. Doris Sylvanus.
            Dalam pembuatan laporan ini perlu digali lagi pengkajian dan penentuan tindakan askep yang dimana di dalam laporan tersebut menggunakan pendekatan proses keperawatan.

B.        Tujuan Penulisan
a.   Tujuan Umum
Memperoleh kemampuan dalam menyusun laporan studi kasus, serta sebagai pengalaman nyata dalam melaksanakan Askep pada pasien malaria dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan
b.   Tujuan Khusus
                  - Mampu menerapkan proses keperawatan pada malaria
                  - Penulis mampu mendokumentasikan Askep.

C.        Metode Penulisan
a.   Metode pembuatan laporan studi kasus yang digunakan ialah: yang bersifat mengembangkan suatu keadaan objektif yang dimulai dengan menggunakan data dan menarik kesimpulan yang selanjutnya disajikan dalam bentuk naratif
b.   Menggunakan Pengumpulan Data Primer
                  - Metode yang dilakukan adalah dengan melakukan wawancara pengkajian dan mengobservasi keadaan pasien selama di rumah sakit.

                  -   Metode pengumpulan data sekunder
                      Keperawatan yang digunakan adalah dengan mempelajari status pasien, catatan Tim kesehatan lainnya selama pasien berada di rumah sakit.






BAB II
PEMBATASAN


I. KONSEP DASAR
2.1.1.   Pengertian

            Manusia adalah Infeksi parasit pada sel darah merah yang disebabkan oleh suatu protozoa spesial plasmodium yantg ditularkan ke manusia melalui air nyamuk (Corwin 2000: 125)
            Malaria adalah penyakit ptozoa yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Anopeles (Issebacter, 1990:1001)
            Malaria adalah penyakit akut maupun klinis yang disebabkan oleh plasmodium manusia dengan demam yang rekuren, anemia dan hepatospenomegali (Rampengann, 1993:185)
            Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa dari genus plasmodium dengan gambaran penyakit berupa demam yang sering periodik, anemia, pembesaran limpa dan berbagai kumpulan gejala oleh karena pengaruh pada berbagai organ, misalnya otak, hati, dan ginjal (Soedarso, 1990:22).

2.1.2        Etiologi
            Organisme penyebabnya adalah protozoa dari genus plsdmodium. Empat spesies yang diketahui menginfeksi manusia yaitu:
-         Plasmodium vivax, merupakan infeksi yang paling sering dan menyebabkan malaria tertiana/vivax (demam tiap hari ke-3).
-         Plasmodium falciparum, memberikan banyak komplikasi dan mempunyai perlangsungan yang cukup ganasm mudah resisten dengan pengobatan dan menyebabkan malaria tropika/falsifarum (demam tiap 24-48 jam).
            Plasmodium malaria, jarang dan dapat menimbulkan sidrom nefrotik dan menyebabkan malaria quartana (demam tiap hari ke-4).
            Plasmodium ovale, memberiakan infeksi yang paling ringan dan sering sembuh spontan tanpa pengobatan, meyebabkan malaria ovale (Harijanto, 2000:152)
2.1.3        Patofisiologi
            Orang diinfeksi melalui gigitan nyamuk Anopheles betina, jika terdapat sporozoit. Merozoit akan dikeluarkan ke dalam darah dan hidup dalam hati akan menjadi merozoit. Merozoit akan dikeluarkan ke dalam darah mereka kemudian akan menyerang sel darah merah mereka melalui beberapa tahap, kemudian merozoit dikeluarkan dalam jumlah yang banyak dengan waktu yang tertentu menyebabkan meningkatnya temperatur yang merupakan ciri khas penyakit ini (Gibson, 1996:55)

Skema 1. Partofisiologi Malaria
Parasit Masuk Tubuh

Berkembang Biak

Fase Skizogomi

- Pecahnya Skizon yang Matang           Demam          gangguan rasa Nyaman
                                                                        suhu tubuh meningkat
                                                        sakit kepala
– Merozoit keluar dan masuk ke darah

Erittrosit hancur                                              Kongesi otak

Hemolisis
                                                Sakit Kepala                            Malaria Serebral
Anemia
                                                                                                Penurunan Kesadaran
Kelemahan                              Penimbunan pada limpa

Intoleransi                                           Kongesti                   Mual muntah, anoreksia
aktivitas                      

                                                     Spenomegali           Gangguan pemenuhan nutrisi

(Gibson, 1996:55)
2.1.4    Manifestasi Klinis dan Komplikasi
2.1.4.1 Manifestasi Klinis
            Secara klinis, gejala dari penyakit malaria terdiri atas beberapa serangan demam dengan interval tertentu yang diselingi oleh suatu periode (periode laten) dimana si penderita bebas sama sekali dari demam.
Sebelum demam penderita biasanya merasa lemah, sakit kepala, tidak ada nafsu makan, mual dan muntah. Pada penderita dengan infeksi majemuk (lebih dari satu jenis plasmodium) atau suatu jenis plasmodium tetapi infeksi berulang dalam jarak waktu berbeda, maka serangan panasnya bisa terus-menerus (tanpa interval), sedangkan pada yang imun, maka gejalanya minimal. Suatu parokinisme biasanya terdiri atas tiga stadium yang berurutan yakni:

2.1.4.1.1  Stadium dingin
               Stadium ini mulai dengan menggigil dan perasaan yang sangat dingin. Gigi gemeretak dan penderita biasanya menutupi tubuhnya dengan segala macam pakaian dan selimut yang tersedia. Nadi cepat tetapi lemah, bibir dan jari-jari pucat dan sianosis, kulit kering dan pucat, penderita mungkin dan bisa terjadi kejang. Stadium ini berlangsung antara 15 menit-1 jam.

2.1.4.1.2  Stadium Demam
               Setelah merasa kedinginan , pada stadium ini penderita merasa kepanasan, muka merah, kulit kering dan terasa sangat panas seperti terbakar sakit kepala, mual, serta seringkali tejadi. Nadi menjadi kuat lagi. Biasanya penderita merasa sangat haus dan suhu badan meningkat sampai 41°C atau lebih. Stadium ini berlangsung antara 2-12 jam.

2.1.4.1.3 Stadium Berkeringat
Pada stadium ini penderita berkeringat banyak sekali sampia tempat tidurnya basah, kemudian suhu badan menurun dengan cepat, kadang-kadang di bawah normal. Gejala tersebut diatas tidak selalu sama pada setiap penderita tergantung pada spesie parasit, beratnya infeksi dan umur dari penderita (Rampengan, 1993 : 188 – 190 ).
2.1.4.2. Komplikasi.
2.1.4.2.1 Anemia
Malaria Serebbal
Black water fever
Malaria nefrotis (Gibson, 1996; 531).

2.15 Pemeriksaan Penunjang
2.1.5.1. Pemeriksaan Hematologi
Kadar Homoglobin menunjukan adanya anemia dari derajat ringan sampai berat (pada malaria kronis), jumlah leukasit normal atau leukopenia, laju endap darah meningkat dan jumlah trombosit biasanya normal.
2.1.5.2. Pemeriksaan mikroskopis / Parasitologi.
Pemeriksaan mikroskopis suatu kali yang memberikan hasil negatif tidak menyingkirkan diagnosis malaria. Untuk itu diperlukan pemriksaan serial dengan interval anatar pemeriksaan satu hari.
Mikroskopis sediaan dari tebal dan sediakan tipis merupakan pemriksaan yang terpenting. Interprestasi pemriksaan mikrokopis yang terbaik adalah berdasarkan hitung parasit dengan indentifikasi parasit yang tepat.
Secara kasar pada pemeriksaan tetes darah tebal sering dilaporkan dengan kode plus (+) satu sampai dengan pius 4 ( + + + + ), yang artinya adalah :
+          : 1 – 10 parasit per 100 Lapang pandang
+ +       : 11 – 100 parisit per 100 Lapang pandang
-+ + + : 1 – 10 Parasit per satu lapang pandang
-+ + + : Lebih dari 10 Parasit per satu lapang pandang.
2.1.5.3. Pemeriksaan Imunosrologis
Pemeriksaan ini dianjurkan untuk melengkpi pemeriksaan mikroskopis atau sebagai koofirmasi jika identifikasi spesies paraisit dengan pemeriksaan mikroskobis memberikan hasil yang meragukan  atau jika secara krisis dan pemeriksaan kimia klinik menunjukan tanda infeksi malaria tetapi pemeriksaan mikkroskopis negatif.


2.1.5.4. Pemeriksaan biokimiawi / kimia klinis.
Pemeriksaan kimia kllinis bukanlah pemeriksaan yang menemukan diagnosis tetapi harus tetap dilakukan untuk menunjang pemeriksaan yang lain (mikroskopis, hematologi dan tmuanoserologis) karena penting untuk memantau perkembangan penyakit dan mendeteksi sendiri mungkin adanya lain bilirubin, creatinin, ureum, slukosa darah urinalisis termasuk adanya hemoglobinuria, dan taal Koagulasi (Plasma Prothorombin Time/PT dan Activated Plasma Thromboplastin Time / APPT ) ( Hanjanto. 2006 ; 191 ; 192).
2.1.6. Penatalaksana Medis.
2.1.6.1 Malaria
2.1.6.1.1 P. Falciparum yang resisten – klorokuin
kuinin sulfat 650 mg per oral selama 7 hari.
Tekanan pediatrik, 10 mg/kg BB selama 7 hari.
Plus Salah Satu
Tetrasiklin 250 mg per oral selama 7 hari ; takaran pediatrik, 5 mg / kg BB selama 7 hari
atau
perimetamin / sulfadoksin 3 tablet (25 mg perimetamin dan 500 sulfadoksin per tablet) dalam dosis tunggal ; takaran periatrik 6-11 bulan, ¼ tablet ; 1 – 3 tahun, ½ tablet ; 4 – 8 tahun, 1 tablet, 9 – 14 tahun, 2 tablet > 14 tahun, 3 tablet.
Terapi Alternatif
Meflokuin. 15 – 25 org peparut basa per kg BB, dosis tunggal (maksimum 1500 mg).
Halofantrin, 8 mg preparet basa per kilogram BB setiap jam untuk 3 kali pemberian (maksimum 15 mg) per hari selama 14 hari untuk infeksi p.vivax atau p.ovale.
2.1.6.13    Malaria berat di rumah sakit (dengan fasilitas perawatan)
Kuinidin glukonat 10 mg preparat basa yang diberikan per infus dengan takaran inisial selama 1-2 jam, kemudian diikuti oleh pemberian 0,02 mg/kg/BB/menit untuk mempertahankan kadar kuinidin dalam darah sebesar 3-7 mg/l sampai parasitemia < 1 persen dan pasien dapat meminum obat, lengkapi pengobatan dengan tablet kuridin sulfat selama 3-7 jam dan tetrasiklin atau pirimetamin sulfadoksin seperti ditunjukkan diatas.
atau
Kuinin sulfat, 7 mg per kilogram yang diberikan per infus dengan kecepatan konstan selama 30 menit sebagai pemberian inisial, yang segera diikuti oleh pemberian 10 mg per kilogram BB diberikan selama 8 jam atau sampai pasien dapat menyelesaikan 3-7 hari pengobatan. Secara oral dengan tablet kuinin. Sulfat; tetrasiklin atau perimetamin/sulfadoksin juga harus diberikan seperti ditunjukkan di atas.
Pengobatan Alternatif
Artemeteri dan senyawa yang ada hubungannya, 3,2 mg/kg BB IM yang diikuti oleh 10 mg per kilogram BB setiap 8 jam sekali melalui menyuntikan IM yang dalam.
Konsentrasi kuinin harus mencapai 60-100 mg gram kuinin per millimeter darah, dan dosis pertama harus dipecah dengan separuh dosis disuntikan IM yang dalam pada masing-masing paha.
Lakukan evaluasi pasien secepat mungkin (setelah keadaannya stabil) kalau pasien dapat minum obat, selesaikan pengobatan dalam waktu 3-7 hari dengan kuinin sulfat dan tetrasiklim atai pirimetamin/sulfadoksin seperti ditunjukkan diatas (Isselbacher, 1999 : 1009).


2.2         Manajemen Asuhan Keperawatan
2.2.1   Dasar Pengkajian Pasien
2.2.1.1  Aktivitas/Istirahat
Gejala   :  Keletihan, kelemahan, malaise umum, kehilangan produktivitas, penurunan semangat untuk bekerja, toleransi terhadap latihan rendah, kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak.
Tanda   :  Takikardia/takipnea; dispnea pada bekerja atau istirahat, litagi, menarik diri, lesu dan kurana tertarik pada sekitarnya, kelemahan otot dan penurunan kekuatan, ataksia, tubuh  tidak tegak.
2.2.1.2  Sirkulasi
Gejala   :  Perasaan dingin meskipun pada ruangan hangat
Tanda   :  TD rendah, takikardia, bradikardia distritmia
2.2.1.3  Integritas Ego
Gejala   :  Ketidaberdayaan/putus asa
Tanda   :  Status emosi depresi, menolak, marah, ansietas
                                                            Eliminasi
Gejala   :  Diare/konstipasi
                Nyeri abdomen tak jelas dan distress, kembung
2.2.1.4  Makanan/cairan
Gejala   :  Anoreksia, mual/muntah
Tanda   :  Penurunan berat badan, penurunan lemak subkutan/massa otot (mal nutrisi)
                Penurunan haluaran, konsentrasi urine, perkembangan ke arah oliguria.
2.2.1.5  Neurosensoris
Gejala   :  Sakit kepala, pusing, pingsan
Tanda   :  Gelisah, ketakutan, kacau mental, disorientasi, delirium/koma.
2.2.1.6  Nyeri/Kenyamanan
Gejala   :  Kejang, abdominal, lokalisasi rasa sakit/ ketidaknyamanan
2.2.1.7  Pernapasan
Tanda   :  Takipnea dengan penurunan pernapasan, infeksi baru, penyakit viral.
                Suhu umumnya normal pada lansia atau menunggu pasien, kadang sub normal (dibawah 36, 63 0C), menggigil.


2.2.2   Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan dari masalah yang nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan yaitu:
2.2.2.1  Hipertermia berhubungan dengan proses informasi
2.2.2.2  Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual muntah.
2.2.2.3  Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik
2.2.2.4  Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit dan pengobatan.
(Doenges, 1999: 426 – 880)

2.2.3   Intervensi
2.2.3.1  Hipertermia dapat dihubungkan dengan : peningkatan tingkat metabolisme, penyakit, inflamasi, dehidrasi, efek samping dari sirkulasi endotaksin pada hipotalamus, perubahan pada regulasi temperatur.
Kemungkinan dibuktikan oleh : peningkatan suhu tubuh yang lebih besar ari jangkauan normal, kulit kemerahan, hangat waktu disentuh, peningkatan pernapasan takikardia.
Intervensi:
2.2.3.1.1    Pantau suhu pasien (derajat dan pola); perhatikan menggigil/diaforesis.
Rasional :
Suhu 38,90 – 41,1 0C menunjukkan proses penyakit infeksius akut.
2.2.3.1.2    Pantau suhu lingkungan, batasi/tambahkan linen tempat tidur, sesuai indikasi.
Rasional :
Suhu ruangan/jumlah selimuti harus diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal.
2.2.3.1.3    Berikan kompres hangat : hindari penggunaan alkohol.
Rasional :
Dapat membantu mengurangi demam, selain itu, alkohol dapat mengeringkan kulit.
2.2.3.1.4    Berikan antipiretik, misalnya ASA (Aspirin), asetaminofen (Tylenol)
Rasional :
Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus, meskipun demam mungkin dapat berguna dalam membatasi pertumbuhan organisme, dan meningkatkan autodestruksi DR sel-sel yang terinfeksi.
2.2.3.1.5    Berikan antibiotik
Rasional :
Antibiotik dapat membunuh kuman
2.2.3.1.6    Berikan selimuti pendingin
Rasional :
Digunakan untuk mengurangi demam umumnya lebih besar dari 39,5 0 – 40 C pada waktu terjadi kerusakan/gangguan pada otak.

2.2.3.2  Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dapat dihubungkan dengan masukan tak adekuat, rancangan mentah sendiri, anoreksia, mual dan muntah.
Kemungkinan dibuktikan oleh : berat badan 15% (atau lebih) di bawah yang diharapkan, atau dalam rentang normal (bulimia). Konjungtiva dan membran mukosa pucat, turgor kulit/tonus otot buruk.
Kehilangan rambut berat, peningkatan pertumbuhan rambut pada tubuh (lanugo).
Intervensi :
2.2.3.2.1    Kaji tentang pemasukan makanan
Rasional :
Vengidentifikasi kebutuhan makanan pasien
2.2.3.2.2    Berikan makan sedikit dan makanan kecil tambahan, yang tepat
Rasional :
Dilatasi gester dapat terjadi bila pemberian makan terlalu cepat setelah periode puasa.
2.2.3.2.3    Buat pilihan menu yang ada dan izinkan pasien untuk mengontrol pilihan sebanyak mungkin.
Rasional :
Pasien yang meningkat kepercayaan dirinya dan merasa mengontrol lingkungan lebih suka menyediakan makanan untuk makan.
2.2.3.2.4    Timbang dengan timbangan yang sama (tergantung pada program protokol)
Rasional :
Meskipun beberapa program memungkinkan pasien melihat hasil timbangan ini memaksa isu kepercayaan pada pasien yang biasanya tidak mempercayai orang lain.
2.2.3.2.5    Awasi program latihan dan susun batasan aktivitas fisik. Tulis aktivitas/tingkat kerja (jalan-jalan dan sebagainya).
Rasional :
Latihan sedang membantu dalam mempertahankan tonus otot/berat badan dan melawan depresi. Namun, pasien dapat latihan terlalu berlebihan untuk membakar kalori.
2.2.3.2.6    Berikan diet dan makanan ringan dengan tambahan makanan yang disukai bila ada.
Rasional :
Memungkinkan variasi sediaan makanan akan memampukan pasien untuk mempunyak pilihan terhadap makanan yang dapat dinikmati.
2.2.3.2.7    Berikan obat sesuai indikasi :
Siprofeptadin (periactin)
Rasional :
Antagonis serotonin dan histamine yang digunakan dalam dosis tinggi untuk merangsang nafsu makan, menurunkan penolakan makanan, dan melawan depresi.
Transquilizer utama, contoh klorpromazine (Thorazine).
Rasional :
Memungkinkan beran badan dan kerja sama pada program psikoterapi tranquilizer utama digunakan hnya bila benar-benar perlu, karena efek samping ekstra piramidal.
2.2.3.3  Intoleransi aktivitas dapat dihubungkan dengan: kelemahan fisik, ketidakseimbangan antara supplai O2 (pengiriman) dan kebutuhan kemungkinan dibuktikan oleh: Kelemahan dan kelelahan.
Mengeluh penurunan toleransi aktivitas/latihan lebih banyak memerlukan istirahat/tidur. Palpasi, takikardia, peningkatan TD/respons pernapasan dengan kerja ringan.
2.2.3.3.1    Kaji kemampuan pasien untuk melakukan tugas/aks normal, catat laporan kelelahan, keletihan dan kesulitan menyelesaikan tugas.
Rasional :
Mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan.
2.2.3.3.2    Kaji kehilangan/gangguan keseimbangan gaya jalan, kelemahan otot.



Rasional :
Menunjukkan perubahan neurology karena defisiensi Vit B12, mempengaruhi keamanan panten/resiko cedera.
2.2.3.3.3    Awasi TD, nadi : pernapasan, selama sesudah aktivitas peningkatan dengan jantung/TD, pusing, dispnea, takipnea dan sebagainya).
Rasional :
Manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah O2 adekuat ke jaringan.
2.2.3.3.4    Berikan lingkungan tenang. Pertahankan tirah baring bila diindikasikan. Pantau dan batasi pengunjung, telepon dan gangguan berulang-ulang. Tindakan yang tak direncanakan.
Rasional :
Meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan O2 tubuh dan menurunkan regangan jantung dan paru.
2.2.3.3.5    Ubah posisi pasien dengan perlahan dan pantau terhadap pusing.
Rasional :
Hipotensi postural dan hipoksia serebral dapat menebabkan pusing.

Rasional :
Hipotensi postural dan hipoksia serebral dapat menyebabkan pusing, berdenyut dan peningkatan resiko cedera.
2.2.3.3.6    Prioritaskan jadwal asuhan keperawatan untuk meningkatkan istirahat pilih periode istirahat dengan periode aktivitas.
Rasional :
Mempertahankan tingkat energi dan meningkatkan regangan pada sistem jantung dan pernapasan.
2.2.3.3.7    Berikan bantuan dalam aktivitas/ambulasi bila perlu, memungkinkan pasien untuk melakukannya sebanyak mungkin.
Rasional :
Membantu bila perlu, harga diri ditingkatkan bila pasien melakukan sesuatu sendiri.
2.2.3.3.8    Gunakan teknik penghematan energi, misalnya mandi dengan duduk untuk melakukan tugas-tugas.
Rasional :
Mendorong pasien melakukan banyak dengan membatasi penyimpangan energi dan mencegah kelemahan.
2.2.3.4  Kurang pengetahuan (Kebutuhan belajar) mengenai penyakir, prognosis, dan kebutuhan pengobatan dapat dihubungkan dengan kurangnya pemajanan/mengingat, kesalahan interpretasi informasi, keterbatasan kognitif.
Kemungkinan dibuktikan oleh: pertanyaan/permintaan informasi, pernyataan salah konsepsi ketidakakuratan mengikuti instruksi/perkembangan komplikasi yang dapat dicegah.
Intervensi
2.2.3.4.1    Tinjau proses penyakit dan harapan masa depan
Rasional :
Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan
2.2.3.4.2    Berikan informasi mengenai terapi obat-obatan, interaksi, efek samping dan pentingnya ketaatan pada program.
Rasional :
Meningkatkan pemahaman dan meningkatkan kerjasama dalam penyembuhan/profilaksis, dan mengurangi risiko kambuhnya komplikasi
2.2.3.4.3    Diskusikan kebutuhan untuk pemasukan nitrisional yang tepat/seimbang.
Rasional :
Perlu untuk penyembuhan optimal dan kesejahteraan umum.
2.2.3.4.4    Dorong periode istirahat adekuat dengan aktivitas yang terjadwal.
Rasional :
Mencegah kepenatan, penghematan energi dan meningkatkan penyembuhan.
2.2.3.4.5    Identifikasi tanda-tanda/gejala-gejala yang membutuhkan evaluasi medis, misalnya peningkatan suhu menetap, takikardia, sinkope, ruam yang tidak diketahui asalnya, kepenatan yang tidak dapat dijelaskan, anoreksia, peningkatan rasa haus dan perubahan pada fungsi kandung kemih.
Rasional :
Pengenalan diri dari perkembangan/kambuhnya infeksi akan memungkinkan intervensi dan mengurangi risiko perkembangan ke arah situasi yang membahayakan jiwa.
2.2.3.4.6    Tekankan pentingnya imunisasi profilaktik/terapi antibiotik sesuai kebutuhan.
Rasional :
Penggunaan pencegahan terhadap infeksi

2.2.4   Implementasi
Melaksanakan tindakan untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan rencana. Pelaksanaannya mengacu pada rencana tindakan yang telah dirumuskan, selama melaksanakan tindakan perawat menilai efektivitas tindakan keperawatan dan respon pasien, juga mencatat dan melaporkan tindakan perawatan yang diberikan serta mencatat reaksi pasien yang timbul (Doenges, 1999 : 426-880).

2.2.5   Evaluasi
2.2.5.1  Diagnosa keperawatan hipertermia hasil diharapkan/kriteria evaluasi pasien akan : suhu dalam batas normal, bebas dari kedinginan, tidak mengalami komplikasi yang berhubungan.
2.2.5.2  Diagnosa keperawatan perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi pasien akan: menyatakan pemahaman kebutuhan nutrisi, menyiapkan pola diet dengan masukan kalori adekuat untuk meningkatkan/ mempertahankan berat badan yang tepat, menunjukkan peningkatan berat badan mencapai rentang yang diharapkan individu.
2.2.5.3  Diagnosa keperawatan intoleransi aktivitas hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi pasien akan: melaporkan peningkatan toleransi aktivitas (termasuk aktivitas sehari-hari), menunjukkan penurunan tanda fisiologis intorelansi, misalnya : nadi, pernapasan dan TD masih dalam rentang normal pasien.
2.2.5.4  Diagnosa keperawatan kurang pengetahuan hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi pasien akan: menunjukkan pemahaman akan proses penyakit dan prognosis. Dengan tepat menunjukkan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan rasional dari tindakan. Melalui perubahan gaya hidup yang diperlukan. Ikut serta dalam program pengobatan (Doenges, 1999: 426 – 880).






























II. MANAJEMEN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
I.          Identitas Pasien
            Nama Tn. K, umur 35 tahun, jenis kelamin laki-laki, suku/bangsa Dayak/Indonseia, agama Kristen Protestan, pekerjaan swasta, pendidikan SMA, status perkawinannya kawin, alamat Kabuapten Pulang Pisau,  tanggal MRS 01 Februari 2008, dan diagnosa medis Malaria.

II.        Riwayat Kesehatan/Perawatan
1. Keluhan utama
     Pasien mengatakan: “Nafsu makan saya kurang, mual, dan badan saya terasa lemah”.
2.  Riwayat penyakit sekarang;
   Pada tanggal 29 Januari 2008 pasien mengeluh demam dan menggigil dan dirawat selama 3 hari di RS Pulang Pisau, lalu pasien pulang. Dan pada tanggal 01 Februari 2008 pasien dirujuk ke RSUD Doris Sylvanus atas permintaan keluarga pasien dan minta konsul di IGD Doris Sylvanu. Di IGD pasien mendapat tindakan medis/theraphy berupa inf. 105 % dan drip chlorogun 2 ampl; 20 tts/mnt. Inj. cefotxin 1 gram (skin test sudah di RSUD Pulang Pisau). Kemudian pasien dirawat inap di Rg. A (Penyakit Dalam Pria)
3.  Riwayat penyakit sebelumnya (riwayat penyakit dan riwayat operasi)
Sebelumnya pasien tidak pernah menderita penyakit yang sama (malaria) dan tidak pernah mendapat tindakan operasi
4.  Riwayat penyakit keluarga
Didalam keluarga pasien tidak ada yang menderita penyakit seperti pasien. Dan tidak ada yang menderita penyakit turunan seperti: Diabetes melitus, Hipertensi, dll. Ataupun penyakit menular seperti: TBC, Hepatitis, dll





C. Genogram Keluarga






 

           










 








Keterangan:


 

                                        : laki-laki/perempuan


 

                                        : perempuan
                                       : laki-laki
                                       : pasien
                                       : tinggal serumah
                                       : Garis keluarga


D.  Pemeriksaan Fisik
1.   Keadaan Umum:
Kesadaran pasien compos menthis, pasien tampak lemah dan lesu, pasien tampak lebih banyak istirahat/tidur, pasien ada muntah 1x, terpasang infus DS%: 22 tts/mnt di tangan kanan pasien.
2.   Status mental:
      Tingkat kesadaran compos menthis, bentuk badan kurus, cara berbaring/bergerak terlentang, berbicara jelas, penampilan cukup rapi, fungsi kognitif:
·         Orientasi waktu: pasien mengetahui saat ini sore
·         Orientasi orang: pasien dapat membedakam antara kelurahan dan tim kesehatan
·         Orientasi tempat: pasien mengetahui dirinya berada di RS
      Proses berpikir bloking, insight baik, mekanisme pertahanan diri adaptif.
3.   Tanda-tanda Vital:
Suhu/T 37°C axilla, nadi/HR 84 x/mt, pernapasan/RR 18 x/tm, tekanan darah/BP 90/70 mmHg
4.   Pernapasan (breathing)
Bentuk dada simetris, type pernapasan teratur, dada dan perut, irama pernapasan teratur, suara nafas vesukuler.
5.   Cardiovaskuler (bleeding) <2 detik.
6.   Persyarafan (brain):
      Nilai GCS:
      E    : 4 (membuka mata spontan)
      V   : 5 (orientasi baik)
      M   : 6 (mengikuti perintah)
Kesadaran compos menthis, pupil isokor, refleks cahaya kanan positif, kiri, positif.
7.   Elimisnasi uri (bladder):
      Produksi urine       : ± 1250 ml 5 x/hr
      Warna                    : kuning
      Bau                        : amoniak
8.   Eliminasi Alvi (Bowel)
      Mulut dan Faring
Bibir tidak lembab, gigi tidak terdapat karies, gusi tidak ada pendaratan, lidah bersih, mukosa tidak lembab, tonsil tidak ada peradangan, rectum tidak ada Hoemoroid, BAB 1x/hr, warna kuning, konsistensi lembek.
9.   Tulang-otot- integumen (Bone)
Kemampuan pergerakan sendi bebas, ukuran otot simetris, uji kekuatan otot ekstrimitas atas 5  5, ektrimitrimitas bawah 5   5, tulang belakang normal.

      Kulit-kuku-rambut
Suhu kulit hangat, warna kulit normal, turgor cukup, tekstur halus, tekstur rambut lurus, distribusi rambut merata.
10. Sistem penginderaan
a.   Mata/penglihatan
Gerakan bola mata bergerak normal, selera normal/putih, konjunctiva pucat/anemic, kornea bening,
b.      Hidung/penciuman bentuk simetris.,tidak ada terdapat polip.
Masalah keperawatan: konjuctiva pasien pucat.
11. Leher dan kelenjar limfe:
Massa (tidak), jaringan perut (tidak), kelenjar tyroid tidak teraba, dan mobilitas leher bebas.

E.  Pola Fungsi Kesehatan
1.   Persepsi Terhadap Kesehatan dan penyakit
Pasien mengatakan: “sehat adalah sesuatu yang sangat berharga, saya bisa beraktivitas. Sakit membuat saya tidak bisa beraktivitas dan sangat tidak enak”
2.      Nutrisi metabolisme
      TB                         : 162 Cm
      BB sekarang          : 57 Kg
      BB sebelum sakit  : 59-Kg
      Diet lunak
      Mual, muntah 1 kali/hari
      Tidak kesukaran menelan
Masalah keperawatan: pasien kurang, selera makan (hanya mampu menghabiskan ¼ porsi makanan dari yang disediakan)






Pola makan sehari-hari
Sesudah sakit
Sebelum sakit
Frekuensi/hari
3x/hari
3x/hari
Porsi
¼ porsi
1 porsi
Nafsu makan
Kurang
Baik
Jenis makanan
Bubur, sayur, ikan
Bubur, sayur, ikan
Jenis minuman
Air putih
Air putih
Jumlah minuman/cc/24 jam
1250-1500 cc/24/jam
1250-1500 cc/24 jam
Kebiasaan makan
Pagi, siang, malam
Pagi, siang, malam
Keluhan/masalah
Pasien mengatakan:
“Nafsu makan saya kurang”


3.   Pola istirahat dan tidur
      Sebelum sakit           : Tidur siang: 1-2 jam
                                          Tidur malam: 7-8 jam
      Saat sakit                  :  Tidur siang : 1-2 jam
                                          Tidur malam: 6-7 jam
4.   Kognitif: pasien cukup mengerti dengan penyakit yang ia alami sekarang.
5.   Konsep dir (gambaran diri, ideal, identitas, harga diri, peran):
Pasien mengatakan: “saya tidak merasamalu dengan penyakit yang saya alami sekarang”
6.   Aktivitas sehari-hari
Pasien dibantu dan melakukan aktivitas sehari-hari seperti makan, minum, BAB, BAK
      Masalah keperawatan: aktivitas pasien dibantu keluarga dan perawat.
7.   Koping-Tolerangsi terhadap stress: apabila mempunyai masalah pasien selalu menceritakan kepada istri dan keluarga.
8.   Nilai pola keyakinan
      Pasien menyatakan: “segala tindakan yang dilakukan oleh kesehatan dalam pengobatan dan perawatan yang diberikan tidak bertentangan dengan kepercayaan yang saya anut.”


F.   Sosial-Spiritual
      1.   Kemampuan berkomunikasi
            Pasien dapat berbicara dengan jelas
      2.   Bahasa sehari-hari dayak dan kadang-kadang bahasa Indonesia.
      3.   Hubungan dengan keluarga baik dan harmonis
      4.   Hubungan dengan teman/petugas kesehatan/orang lain baik dan, pasien dapat bekerja sama dengan petugas kesehatan dalam pengobatan dan perawatan.
      5.   Orang berarti/terdekat: istri dan anak-anak pasien
      6.   Kebiasaan menggunakan waktu luang beristirahat di tempat tidur.
      7.   Kegiatan beribadah: sebelum sakit pasien beribadah ke gereja, namun saat sakit pasien hanya berdoa di tempat tidur saja.

G.  Data Penunjang (Radiologi, Laboratorium, Penunjang lainnya)
                                                                                    normal
      Hemoglobin             2,8    9 %                              L: 13,5-18,09 %
      Glukosa                    82     md/di                               < 200 mg/di
      Ureum                      3,2    md/mi                                   21-53 mg/di
      Creatinin                  2,4    md/di                                   0,17-15 mg/di
      SGOT                       2,3    U/L
      SGPT                       17     U/L
      Gol Darah                -A-

H.  Penatalaksanaan Medis
      Inf.105 %/RL              20 tts/mnt
      Cetotaxin                    2 x 1 grm
      Ranitidin                     2 x 1 ampl
      Geptamitan                 2 x 1 tab
      As. Folat                     3 x 1 tab
      Progesa                        3 x 1 gram
      Klorokuin                    1 x 1 tab
      Primakuin                    (hari Iàmalaria)                           


II.  ANALISA DATA
DATA SUBJEKTIF DAN DATA OBJEKTIF
KEMUNGKINAN PENYEBAB
MASALAH
1. Ds : Pasien mengatakan
    Nafsu makan saya kurang
    Perut saya terasa mual
    Do : Pasien tampak kuran tapak berselera makan
-      Pasien hanya mampu menghabiskan ¼ posi makanan dari 1 porsi makanan yang disediakan
-     Pasien sebelumnya   muntah 1 x
-     BB sebelum sakit = 60-61 kg
-     BB saat sakit  = 57 kg
-     Pasien tampak kurus
-     Membran mukosa Pucat
    Konjungtiva pucat
2. Ds : Pasienmengatakan :
   “Badan saya terasa lemah”
    Do : - Pasien tampak lemah.lesu
-     pasien berbaring di tempat tidur
-     tanda-tanda vital
  S = 37o C (axila)
  N = 84 X /Mnt
 TD = 90/70 mmhg
-     Aktivitas pasien dibantu
 Oleh keluarga dan pasien.





Anoreksia,Mual/
Muntah











Kelemahan Fisik








Perobatan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh











Intoleransi aktivitas



PRIORITAS MASALAH
1.   Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
      b/d Anoreksia, mual/muntah (Doenges 1999: 426-880)
2.   Intoleransi Aktivitas
      b/d kelemahan fisik (Doenges 1999: 426-880)
     











Tidak ada komentar:

Posting Komentar